Resep kopi dan informasi kopi: sejarah kopi, manfaat kopi, jenis kopi, kandungan kopi, pengolahan kopi, tanaman kopi, kopi robusta & kopi luwak. Juga informasi teh dan artikel teh.

COFFE MAKER memang belum umum di Indonesia, karenanya Anda perlu tahu, makanya --> CARI TAHU DI SINI

Hello coffee lover, welcome..

Hello coffee lover, welcome..

Lahan Untuk Budidaya Tanaman Kopi



Persiapan lahan budidaya tanaman kopi:

A. Pembukaan Lahan
Areal yang biasa dipakai untuk perladangan kopi adalah sebagai berikut:




a. Areal hutan sekunder bekas ladang berpindah
  • Dipilih areal hutan sekunder dengan kepemilikan jelas.
  • Pembongkaran pohon‐pohon, tunggul beserta perakarannya.
  • Pembongkaran tanaman perdu dan pembersihan gulma.
  • Pembersihan lahan, kayu‐kayu ditumpuk di satu tempat di pinggir kebun.
  • Pencetakan kebun secara hektaran.
  • Pembuatan jalan‐jalan, jembatan beserta saluran drainase.
  • Pembuatan teras‐teras pada lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 15%.
  • Mengajir dan menanam tanaman penaung sementara dan penaung tetap.
  • Ajir lubang tanam, jarak tanaman kopi arabika kate (Kartika 1 & Kartika 2) 1,25 m x 2 m atau 1,5 m x 2 m. Jarak tanam kopi jagur (AB 3, USDA 762 dan S 795) adalah 2 m x 2,5 m atau m x 2,5 m.

Untuk pembuatan lubang tanam, ukuran lubang tergantung tekstur tanah. Makin berat tanah ukuran lubang makin besar. Ukuran lubang yang lazim adalah 60 x 60 x 60 cm. Lubang dibuat 6 bulan sebelum tanam. Untuk tanaman yang kurang subur dan kadar bahan organiknya rendah, ditambahkan pupuk hijau dan pupuk kandang.
  • Tutup lubang tanam, 1 ‐ 3 bulan sebelum ditanam kopi dan dijaga agar batu‐batu, cadas dan sisa‐sisa akar tidak masuk kedalam lubang tanam.
  • Selama persiapan lahan, pada areal yang kosong dapat ditanami beberapa jenis tanaman semusim, misalnya kedelai, ubi jalar, jagung, kacang‐kacangan. Jenisnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani, peluang pasar dan iklim mikro yang ada.
  • Sebelum tanam, semprotkan larutan pupuk hayati MiG‐6PLUS pada titik‐titik penanaman. Tahap ini diperlukan 3 liter MiG‐6PLUS perhektar.
  • Tanaman yang belum menghasilkan pemberian pupuk hayati MiG‐6PLUS dengan cara membuat lubang disekitar pangkal batang (jarak 20‐30 cm), berikan 4 bulan sekali. Sekali aplikasi dibutuhkan 3 liter pupuk hayati MiG‐6PLUS perhektar.
  • Tanaman yang sudah menghasilkan pemberian pupuk hayati MiG‐6PLUS dengan cara membuat lubang disekitar pangkal batang (jarak 30 ‐ 50 cm), berikan 3 bulan sekali. Sekali aplikasi dibutuhkan 3 liter pupuk hayati MiG‐6PLUS perhektar.

b. Areal kebun aneka tanaman
  • Pemberian tanda tanaman‐tanaman yang dipilih sebagai penaung kopi. Dipilih jenis yang bernilai ekonomis, tajuknya mudah diatur (tahan pangkas) dan lebih baik meneruskan cahaya diffuse. Jarak antar tanaman ± 10 m x 10 m tergantung pada besarnya ukuran tajuk (habitus) tanaman.
  • Memotong perdu dan semua tanaman yang tidak dipilih.
  • Kayu diusahakan untuk di tumpuk di pinggir kebun.
  • Membersihkan gulma secara manual atau kimiawi.
  • Ajir lubang tanam kopi, pembuatan lubang, isi lubang dan tutup lubang sama seperti diuraikan diatas.

c. Areal semak belukar
  • Pada prinsipnya sama dengan persiapan lahan dari hutan sekunder.
  • Sisa‐sisa semak dapat ditumpuk dalam barisan‐barisan di dalam kebun (model lorong = alley system). Lebar lorong yang bersih dari tumpukan semak 1 m dan jarak antar lorong 4‐5 m.
  • Ajir penaung di dalam lorong, jarak antar ajir 2‐2,5 m.
  • Tanam pohon penaung.
  • Ajir lubang tanam kopi di dalam lorong, jarak 1,25 m untuk kopi kate, dan 2 m untuk kopi jagur.
  • Pembuatan lubang tanam ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Lubang dibuat 6 (enam) bulan sebelum tanam.
  • Lubang diisi pupuk hijau dari hasil tebasan gulma.
  • Tutup lubang tanam, 1‐3 bulan sebelum tanam bibit kopi.
  • Selama persiapan lahan tersebut di dalam lorong dapat diusahakan beberapa jenis tanaman semusim, jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan petani, peluang pasar dan iklim mikro yang ada.

B. Pengendalian Alang‐alang (Imperata cylindrica):
Menurut Balit Karet Sumbawa, pengendalian alang‐alang dapat dilakukan secara perebahan, mekanisme, kultur teknis, kimiawi dan terpadu.

a. Perebahan
  • Daun dan batang alang‐alang yang telah direbahkan akan kering dan mati tanpa merangsang pertumbuhan tunas dan rimpang serta dapat berfungsi sebagai mulsa.
  • Perebahan dapat menggunakan papan, potongan kayu atau drum.
  • Setelah alang‐alang terkendali, lahan siap untuk usaha tani kopi dengan tahap‐tahap seperti yang telah diuraikan di atas.

b. Cara mekanis
  • Dilakukan dengan pengolahan tanah.
  • Penebasan dapat mengurangi persaingan alang‐alang dengan tanaman pokok tetapi hanya bersifat sementara dan harus sering diulangi minimum sebulan sekali.
  • Setelah alang‐alang terkendali, lahan siap untuk usaha tani kopi dengan tahapan seperti yang telah diuraikan di atas.

c. Cara kultur teknis
  • Penggunaan tanaman penutup tanah leguminosa (PTL). Jenis‐jenis PTL yang sesuai meliputi Centrosema pubescens, Pueraria javanica, P. triloba, C. mucunoides, Mucuna spp. dan Stylosanthes guyanensis.
  • Semprot alang‐alang dengan herbisida dengan model lorong, lebar lorong 2 m, jarak antar lorong 4 m.
  • Apabila alang‐alang sudah kering, buat dua jalur tanam sedalam 5 cm, jarak antar alur 70 cm.
  • Gunakan PTL sesuai rekomendasi untuk daerah setempat, kebutuhan benih 2 kg/ha.
  • Benih dicampur pupuk SP‐36 sebanyak 24 kg/ha kemudian ditaburkan di dalam alur.
  • Tutup alur dengan tanah setebal 1 cm.
  • Alang‐alang akan mati setelah tertutup oleh tajuk PTL.
  • Metode ini lebih tepat untuk areal yang sudah ada tanaman pokoknya.

d. Pengendalian secara terpadu (pengolahan tanah minimum dan penggunaan herbisida):
  • Semprot alang‐alang yang sedang tumbuh aktif dengan herbisida sistemik.
  • Rebahkan alang‐alang yang sudah mati dan kering.
  • Tanam tanaman semusim dengan cara tugal sebagai precropping.
  • Bersamaan dengan itu lahan siap ditanami tanaman penaung dan tanaman kopi dengan tahap‐tahap seperti telah diuraikan.

C. Penanaman Penaung Tanaman Kopi
Ditanami minimal satu tahun sebelum penanaman tanaman kopi.
Syarat‐syarat Pohon Penaung:
  • Memiliki perakaran yang dalam.
  • Memiliki percabangan yang mudah diatur.
  • Ukuran daun relatif kecil tidak mudah rontok dan memberikan cahaya diffus.
  • Termasuk leguminosa dan berumur panjang.
  • Menghasilkan banyak bahan organik.
  • Tidak menjadi inang hama‐penyakit kopi.

a. Penaung sementara tanaman kopi
  • Jenis tanaman penaung sementara yang banyak dipakai adalah Moghania macrophylla (Flemingia congesta), Crotalaria spp, Tephrosia spp.
  • Moghania cocok untuk tinggi tempat 700 m dpl ke bawah.
  • Untuk daerah 1.000 m dpl ke atas sebaiknya dipakai Tephrosia atau Crotalaria.
  • Untuk komplek‐komplek nematoda dipakai Crotalaria.
  • Naungan sementara ditanam dalam barisan dengan selang jarak 2‐4 m atau mengikuti kontur.

b. Penaung tetap tanaman kopi
  • Pohon penaung tetap yang banyak dipakai di Indonesia adalah lamtoro (Leucaena spp), sengon (Albizia sp), dadap (Erythrina sp), Gliricidia dan cemara (Casuarina).
  • Lamtoro tidak berbiji dapat diperbanyak dengan cangkokan atau okulasi, ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m, setelah besar secara berangsur‐angsur dijarangkan menjadi 4 m x 5 m.
  • Sengon digunakan pada daerah kering dan tinggi (1.000‐1.500) m dpl. Ditanam dengan jarak 2 m x 2,5 m kemudian setelah besar secara berangsur‐angsur dijarangkan menjadi 10 m x 10 m.
  • Cemara banyak digunakan di Irian Jaya, untuk daerah tinggi di atas 1.500 m dpl.

D. Tumpangsari (Intercropping)
Tumpangsari dilakukan dengan tujuan dan cara sebagai berikut:
  • Digunakan untuk meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi resiko usaha tani, serta menjamin kelangsungan pendapatan.
  • Dilakukan dengan pengusahaan tanaman semusim, (khususnya untuk lahan‐lahan datar/landai), dan penggunaan tanaman penaung produktif.
  • Jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan petani, peluang pasar, nilai ekonomi dan iklim mikro yang ada.

a. Tumpangsari tanaman semusim dengan kopi
Diusahakan selama masa persiapan lahan dan selama tanaman kopi belum menghasilkan (tajuk kopi belum saling menutup) atau selama iklim mikro masih memungkinkan.
  • Untuk pengusahaan yang bersifat lebih permanen pada lahan datar dapat dilakukan dengan sistem budidaya lorong (alley cropping). Pada tiap 3‐5 barisan kopi disediakan lorong dengan Iebar 8 m untuk tanaman tumpangsari.
  • Tanaman semusim yang banyak diusahakan antara lain adalah jenis hortikultura (kubis, kentang, wortel, tomat, dan cabe), Palawija (jagung), kacang‐kacangan dan umbi‐umbian.
  • Tanaman jagung yang mempunyai pertumbuhan tinggi dapat juga berfungsi sebagai penaung sementara yang efektif.
  • Limbah tanaman semusim dimanfaatkan untuk pupuk hijau atau mulsa tanaman kopi.

b. pohon penaung produktif
  • Dipilih yang memiliki kanopi tidak terlalu rimbun, daun berukuran kecil atau sempit memanjang agar dapat memberikan cahaya diffus dengan baik.
  • Bukan inang hama penyakit utama kopi.
  • Tidak menimbulkan pengaruh allelopati.
  • Pohon penaung produktif ditanam dengan jarak ± 10 m x 10 m tergantung ukuran besarnya tajuk tanaman.
  • Pohon produktif yang banyak dipakai untuk kopi antara lain Macadamia dan jeruk keprok. Untuk kopi robusta antara lain petai, jengkol dan kelapa.
  • Jeruk keprok ditanam dengan jarak 6 m x 8 m atau 8 m x 8 m. Macadamia, petai dan jengkol ditanam dengan jarak 5 m x 5 m, kemudian secara berangsur‐angsur dijarangkan menjadi 10 m x 10 m.






Page Views

Punya tempat minum kopi atau produk kopi favorit? Mari kita berbagi informasi pada pembaca yang lain di sini.
Return to top of page Copyright © 2012 | Rumah Kopi: "hello coffee lover, you are at home now."
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...